Tuesday, November 19, 2019

Manajemen Pengendalian Perubahan (Change Control Management)


Manajemen Pengendalian Perubahan

            Manajemen Pengendalian Perubahan adalah proses yang meyakinkan bahwa implementasi perubahan di dalam ruang lingkup IT efektif. Tujuan dari manajemen pengendalian perubahan adalah untuk meminimalisir gangguan, kesalahan dan juga perubahan yang tanpa persetujuan.

Pentingnya Manajemen Pengendalian Perubahan

            Software aplikasi didesain untuk mendukung fungsi spesifik, seperti sistem pembayaran gaji atau peminjaman uang kas. Biasanya, beberapa aplikasi berjalan bersamaan dibawah satu sistem operasi. Menciptakan kendali atas perubahan dari aplikasi – aplikasi ini dapat meyakinkan pengguna bahwa hanya aplikasi yang resmi yang dapat dipakai. Tanpa kendali yang benar, terdapat resiko dimana keamanan atau keaslian data dapat menyebabkan beberapa hal seperti penyalahgunaan dan manipulasi data, pesan kesalahan yang akan terus muncul karena kesalahan sistem, dan lain sebagainya.
            Fokus utama dalam Manajemen Pengendalian Perubahan adalah mengendalikan perubahan yang dilakukan terhadap aplikasi agar aplikasi yang diubah tersebut tetap dapat berjalan mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.

Proses Manajemen Pengendalian Perubahan

            Setiap perubahan yang diterapkan harus benar – benar direncanakan, dikoordinasikan, diuji coba, dan diimplementasikan berdasarkan dari tingkat kerumitan hubungan hardware, software, dan aplikasi di ruang lingkup operasional. Proses perubahan yang efektif dapat mengurangi resiko kegagalan layanan IT. Perubahan yang diajukan pertama – tama harus direview oleh personil manajemen perubahan untuk mengidentifikasi potensi konflik dengan sistem lain. Proses manajemen pengendalian perubahan juga harus diperbaharui secara berkala untuk memastikan tingkat efektivitasnya.
            Perubahan yang dilakukan termasuk tapi tidak terbatas pada pembetulan kesalahan dan/atau penambahan fitur baru. Skala perubahan yang dilakukan juga bervariasi, mulai dari pembetulan kesalahan kecil sampai perancangan ulang seluruh sistem. Terdapat 3 tipe perubahan : perubahan rutin, non rutin, dan darurat. Perubahan rutin biasanya memberikan efek yang minim terhadap keseluruhan operasi harian. Perubahan rutin dapat diimplementasikan dan dicadangkan dengan cepat dan mudah. Perubahan non rutin berpotensi memberikan efek yang besar terhadap sistem. Perubahan non rutin dapat memengaruhi kinerja sebagian besar pengguna dan biasanya memiliki implementasi dan pencadangan yang rumit. Perubahan darurat adalah perubahan kecil maupun besar yang harus dilakukan dengan segera tanpa mengikuti prosedur standar.
            Proses manajemen pengendalian perubahan biasanya mencakup :
-        Form permintaan perubahan
-        Pengukuran efek perubahan
-        Pengendalian
-        Perubahan darurat
-        Perubahan dokumentasi
-        Perubahan pemeliharaan
-        Perilisan software
-        Pendistribusian software


Form Permintaan Perubahan

            Form permintaan perubahan memastikan hanya perubahan resmi saja yang dilakukan, memastikan bahwa semua perubahan yang terjadi disimpan di sebuah catatan perubahan, sumber daya digunakan dengan sewajarnya, dan perubahan yang dilakukan adalah perubahan yang tingkat prioritasnya tinggi. Perubahan yang diimplementasikan haruslah diprioritaskan dalam hal keuntungan yang didapat, tingkat kesegeraan yang ada, usaha yang dibutuhkan, serta potensi pengaruh terhadap sistem yang sedang berjalan.

Pengukuran Efek Perubahan

            Setiap perubahan yang dilakukan haruslah memiliki tingkat efek perubahan untuk memastikan bahwa potensi konsekuensi negatif yang akan timbul, telah dikenali dan siap untuk dihadapi. Perubahan dalam sistem dapat menyebabkan beberapa resiko terhadap segala aspek contohnya ketersediaan integritas, kerahasiaan, dan performa sistem.

Pengendalian

            Pengendalian perubahan bukan hanya memastikan perubahan resmi saja yang diketahui dan diimplementasikan, tapi juga menyaring perubahan tidak resmi yang berpotensi merusak kinerja sistem. Berfungsi untuk mengurangi efek negatif atau error yang berpotensi terjadi di sistem.

Perubahan Darurat

            Perubahan darurat adalah perubahan yang harus dilakukan diluar jadwal yang sebelumnya sudah ditentukan. Biasanya perubahan darurat dibutuhkan untuk membetulkan kesalahan yang bisa memengaruhi kinerja sistem. Prosedur perubahan darurat tidak hanya menjelaskan perubahan apa yang akan dilakukan tapi juga menjelaskan atas alasan apa sebuah perubahan darurat harus dilakukan. Perubahan darurat memiliki potensi merusak sistem karena perubahan darurat dilakukan dengan tiba – tiba dan tanpa melakukan prosedur pengajuan perubahan yang semestinya.

Perilisan Software

            Software atau sistem yang telah diubah haruslah dipastikan bahwa perubahan yang dilakukan telah diizinkan oleh manajemen yang bertanggung jawab, diuji coba, dan didokumentasikan.

Pendistribusian Software

            Tujuan dari pendistribusian software adalah untuk memastikan bahwa software yang tersebar telah sesuai dengan dokumentasi perubahan yang dilakukan. Software yang didistribusikan memiliki persetujuan lisensi yang harus dipatuhi, contohnya bagaimana ketentuan menggunakan software tersebut, apakah berbayar, gratis, atau gratis bersyarat, kemudian pihak mana saja yang diizinkan untuk menggunakan software tersebut, dan lain sebagainya.

Standar Prosedur Manajemen Pengendalian Perubahan

            Adanya sebuah standar prosedur adalah untuk memastikan bahwa semua pihak melakukan proses kegiatan yang sama untuk mencapai tujuan yang diminati. Berikut adalah hal – hal yang harus diperhatikan dalam menciptakan perubahan.

            Objektif/Tujuan :
-        Alasan – alasan mengapa perubahan itu ingin dicapai
-        Siapa yang menginginkan perubahan tersebut
-        Siapa yang akan mengubah
-        Bagaimana perubahan itu akan dilakukan
-        Mengukur resiko kegagalan dan efek perubahan yang ditimbulkan
-        Merancang rencana B dan prosedur cadangan
-        Melakukan komunikasi terhadap pihak – pihak yang terpengaruh perubahan
-        Mengidentifikasikan pemulihan kesalahan
-        Mengidentifikasikan konflik di antara perubahan – perubahan yang dilakukan

Lingkupan Perubahan :
Lingkupan perubahan yang terjadi mencakup,
-        Hardware
-        Software sistem operasi
-        Database
-        Software aplikasi
-        Aplikasi pihak ketiga
-        Telekomunikasi
-        Tingkat keamanan
-        Jaringan

Kriteria dalam menyetujui perubahan
            Persetujuan perubahan dapat didasarkan oleh kriteria sebagai berikut :
-        Keadaan produksi di lapangan. Sebelum menentukan apakah suatu perubahan dapat dilakukan, manajemen pengendalian perubahan haruslah terlebih dahulu menilai performa dan ketersediaan dari masing – masing sistem pada pekan – pekan sebelumnya.
-        Tingkat perubahan. Sebagai bagian dari persetujuan perubahan, tingkatan perubahan diuji coba bersamaan dengan informasi mendetail dan instruksi yang tertera pada permintaan perubahan.
-        Efek kumulatif dari semua perubahan yang diajukan. Manajemen pengendalian perubahan adalah satu tempat dimana semua pengajuan perubahan dikumpulkan. Pihak manajemen dapat menilai beberapa perubahan yang mana jika dinilai satu – persatu memiliki resiko yang berbeda – beda.
-        Ketersediaan sumber daya. Manajemen pengendalian perubahan mengevaluasi ketersediaan sumber daya manusia, waktu dan sistem ketika merancang penjadwalan dan persetujuan perubahan.
-        Tingkat kepentingan/kritikal. Ada beberapa isu dimana perubahan yang dikehendaki oleh pihak tertentu adalah perubahan yang efek atau imbasnya relatif kecil. Tapi jika dilihat dari sudut pandang manajemen, bisa jadi efek yang ditimbulkan besar karena permintaan perubahan tersebut datang dari pihak yang penting/kritikal.

Pasca Implementasi

            Perubahan yang telah diimplementasikan, haruslah dievaluasi apakah perubahan yang dilakukan sudah sesuai dengan standar prosedur yang ada atau tidak. Evaluasi pasca implementasi juga harus menilai apakah rencana cadangan yang diajukan telah sesuai.

Manajemen Konfigurasi

            Manajemen konfigurasi adalah mengendalikan inventaris fisik dan hubungan antar komponen yang membentuk satu set standar minimum dari objek yang akan mengalami perubahan. Manajemen konfigurasi bertanggung jawab untuk memastikan semua perubahan yang diimplementasikan terhadap software selama proses perancangan telah memenuhi standar minimum.

Kesimpulan

            Perubahan pada sebuah sistem adalah hal yang sering terjadi, dan tidak terbatas hanya pada pembetulan kesalahan, pengimplementasian fitur baru, dan perilisan software versi terbaru. Manajemen pengendalian perubahan adalah satu dari sekian banyak aspek yang sangat penting. Sebuah manajemen pengendalian yang efektif dapat mengurangi potensi gangguan layanan sistem. Proses ini juga memastikan integritas, ketersediaan, kepercayaan, keamanan, kerahasiaan, dan keakuratan dari sebuah organisasi atau aspek IT dari organisasi tersebut. Kemudian, manajemen pengendalian perubahan tidak hanya mengawasi perubahan – perubahan yang dilakukan, tapi juga memastikan tanggung jawab yang ada telah terpenuhi kepada siapa yang memulai, menyetujui, dan mengimplementasikan perubahan.

video penjelasan : klik

Sumber : diterjemahkan dari Otero, Angel R - Information Technology Control and Audit (chapter 10)

Thursday, March 15, 2018

Soto Betawi, Authentic Batavian Cuisine

Ever heard of soto Betawi ? Soto Betawi is a traditional Indonesian soup mainly composed of broth, meat, and vegetables. Many traditional soups are called soto, whereas foreign and Western influenced soups are called sop. This cuisine usually served with or without a plate of rice, because Indonesian people mainly eat rice. The term "Soto Betawi" appeared in Indonesian culinary at 1977 until 1978 in the past, but the dish itself was already founded long before that. The person who made this popular is a soto seller named Lie Boen Po who used to sell this cuisine at THR Lokasari / Prinsen Park, and of course he's using his own unique recipe.
There were many soto maker who call him foot soto mister "X" or with another names at that time.  The term itself started to spread and used as the general term for the same dish by another soto maker when mister X closes his shop in 1991. 
Soto is sometimes considered Indonesia's national dish, as it is served from Sumatra to Papua, in a wide range of variations. Soto is omnipresent in Indonesia, available in many warungs and open-air eateries on many street corners, to fine dining restaurants and luxurious hotels. Soto, especially soto ayam (chicken soto), is an Indonesian equivalent of chicken soup. Because it is always served warm with a tender texture, it is considered an Indonesian comfort food.
Because of the proximity and significant numbers of Indonesian migrants working and settling in neighbouring countries, soto can also be found in Singapore and Malaysia, and has become a part of their cuisine.
Introduced to Suriname by Javanese migrants, it is part of the national cuisine of that country as well, where it is spelled saoto.
Nowadays, we can find this dish almost everywhere in Jakarta.





Sources :
https://en.wikipedia.org/wiki/Soto_(food)
https://id.wikibooks.org/wiki/Resep:Soto_Betawi

Sunday, June 4, 2017

Tahapan - Tahapan dalam Pembuatan Animasi

Tahap-Tahap Pembuatan Animasi


ABSTRAK

Pembuatan animasi memiliki beberapa tahap, diantaranya adalah Sebelum produksi (pre-production), produksi (production), dan setelah produksi (post production).  Tahapan sebelum produksi dibagi lagi menjadi lima yaitu ide dan konsep. Ide dan konsep adalah proses pencarian ide dan konsep serta gagasan untuk animasi yang akan dibuat. Lalu pada subbagian scenario adalah proses untuk pembuatan naskah atau alur cerita animasi. Kemudian dalam tahap sketsa model objek atau karakter, storyboard, take voice & music background. Kemudian tahap selanjutnya adalah tahap produksi. Di tahap inilah animasi benar – benar dibuat.
Tahap produksi dibagi pula menjadi enam bagian yaitu modelling, texturing, lighting, environment effect, animation, dan rendering. Dan di tahap akhir ada tahap akhir produksi. Tahap ini merupakan tahap penutupan atau finishing. Tahap ini dibagi menjadi lima bagian, yaitu animation and voice editing, compositing and visual effect, adding sound and audio, preview and final, dan burn to tape.

PENDAHULUAN

I.     Latar Belakang

Animasi, atau lebih akrab disebut dengan film animasi, adalah film yang merupakanhasil dari pengolahan gambar tangan sehingga menjadi gambar yang bergerak. Pada awal penemuannya, film animasi dibuat dari berlembar-lembar kertas gambar yang kemudian di-”putar” sehingga muncul efek gambar bergerak. Dengan bantuan komputer dan grafikakomputer, pembuatan film animasi menjadi sangat mudah dan cepat. Bahkan akhir-akhirini lebih banyak bermunculan film animasi 3 dimensi daripada film animasi 2 dimensi.Wayang kulit merupakan salah satu bentuk animasi tertua di dunia. Bahkan ketika teknologi elektronik dan komputer belum diketemukan, pertunjukan wayang kulit telahmemenuhi semua elemen animasi seperti layar, gambar bergerak, dialog dan ilustrasi musik.
Pada awalnya, animasi kartun dibuat tanpa menggunakan suara, hanya mengandalkan gerakan objeknya saja. Namun teknologi semakin lama semakin berkembang. Akhirnya di akhir era 60an film kartun dapat diisi dengan suara.

II. Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada pembaca tentang macam-macam animasi dan tahap-tahap untuk pembuatan animasi.



ISI

Animasi merupakan suatu seni untuk membuat dan mengerakkan sebuah obyek, baik berbentuk 2 dimensi maupun 3 dimensi dan dibuat menggunakan berbagai cara, misalnya menggunakan kertas, komputer dan lain sebagainya. Animasi saat ini telah menjadi industri besar yang memberikan dampak ekonomi dan sosial yang begitu besar bahkan cukup signifikasi terhadap pendapat sebuah negara.
Ada dua proses pembuatan film animasi, diantaranya adalah secara konvensional dan digital. Proses secara konvensional sangat membutuhkan dana yang cukup mahal,sedangkan proses pembuatan digital cukup ringan. Sedangkan untuk hal perbaikan, proses digital lebih cepat dibandingkan dengan proses konvensional. Tom Cardon seorang animator yang pernah menangani animasi Hercules mengakui komputer cukup berperan.”Perbaikan secara konvensional untuk 1 kali revisi memakan waktu 2 hari sedangkan secara digital hanya memakan waktu berkisar antara 30-45 menit. Dalam pengisian suara sebuah film dapat dilakukan sebelum atau sesudah filmnya selesai. Kebanyakan dubbing dilakukan saat film masih dalam proses, tetapi terkadang seperti dalam animasi Jepang, sulih suara justru dilakukan setelah filmnya selesai dibuat 2 Dimensi
Celluloid (konvensional)Teknik Celluloid (terkadang disebut menjadi cell) ini merupakan teknik mendasar dalam pembuatan film animasi klasik. Setelah gambar mejadi sebuah rangkaian gerakan maka gambar tersebut akan ditransfer keatas lembaran transparan (plastik) yang tembus pandang/ sel (cell) dan diwarnai oleh Ink and Paint Departement. Setelah selesai film tersebut akan direkam dengan kamera khusus, yaitu multiplane camera didalam ruangan yang serba hitam.Objek utama yang mengeksploitir gerak dibuat terpisah dengan latar belakang dan depan yang statis. Dengan demikian, latar belakang (background) dan latar depan (foreground) dibuat hanya sekali saja. Cara ini dapat menyiasati pembuatan gambar yang terlalu banyak.

■ Sebelum Produksi (Pre Production)
■ Produksi (Production)
■ Setelah Produksi (Post Production)

Pre Production
1.     Ide dan konsep
– proses ini adalah proses pencarian ide dan konsep serta gagasan untuk animasi yang akan dibuat.
 – ide, bisa datang dari berbagai hal, seperti kisah nyata,dongeng, legenda,kisah klasik,fantasi,fiksi dan lain-lain.
– ide harus memiliki keistimewaan , keunggulan dan keunikan yang khas sehingga menarik untuk diangkat.
– yang terpenting adalah selalu kreatif dalam mencari dan mengolah serta mengembangkan ide tersebut.

2.     Skenario/script
– proses ini adalah proses pembuatan naskah atau alur cerita animasi.
– skenario yang menarik akan menentukan keberhasilan dari film animasi yang dibuat skenario biasanya berbentuk teks tulisan/ketikan.

3.     Sketsa Model Objek atau Karakter
– Proses ini adalah proses pembuatan sketsa dasar dari model yang akan dibuat. sjketsa tersebut akan menjadi dasar panduan bagi modeler untuk membuat model.
– Akan lebih baik bila sketsa desain terdiri dari komponen gambar yang lengkap seperti, gambar tampak depan, samping kanan-kiri, belakang dan perspektif. sehingga akan memudahkan modeler untuk membuat animasi 3D-nya.
– Khusus intuk karakter , sketsa dibuat dengan ,menampilkan berbagai ekspresiwajah, seperti ekspresi gembira,riang, tertawa, sedih, murung,bingung dan sebagainya.

4.     Storyboard
– storyboard adalah bentuk visual /gambar dari skenario yang telah dibuat, berupa kotakkotak gambar (seperti komik) yang menggambarkan jalan cerita dan adegan-adegan yang hendak dibuat dalam film.
– Storyboard berfungsi sebagai panduan utama dari proses produksi animasi. Segala macam informasi yang dibutuhkan harus dibuat dan tercantum dalam storyboard, seperti angle kamera, tata letak/layout/staging, durasi, timing, dialog,ekspresi dan informasi lainnya.
– Dengan adanya storyboard, maka proses pembuatan animasi akan menjadilebih mudah, jelas, fokus, dan terarah.

5.    Take voice & Music Background
– proses ini adalah proses pengambilan dan perekaman suara untuk mengisi suara karakter animasi.
– dalam proses ini juga dibuat ilustrasi musik sebagai background untuk film animasi.

Production
1.     Modelling
– proses ini adalah proses pembuatan model objek dalam bentuk 3D dikomputer.
– Model bisa berupa karakter (mahkluk hidup), seperti manusia, hewan, atau tumbuh-tumbuhan; atau berupa benda mati seperti rumah, mobil, peralatan, dan lain - lain.
– Model harus dibuat dengan mendetail dan sesuai dengan ukuran dan skala pada sketsa desain/model yang telah ditentukan sebelumnya sehingga objek model akan tampak ideal dan proporsional untuk dilihat.

2.     Texturing
– proses ini adalah proses pembuatan dan pemberian warna dan material (texture) pada objek yang dimodelkan sebelumnya sehingga akan tampak kesan yang nyata.
– Pemberian material atautexture pada objek 3D akan mendefinisikan rupa dan jenis bahan dari objek 3D.
– Material atautexture dapat berupa foto atau gambar yang dibuat dengan aplikasi software 3D, seperti 3DsMax,Maya, dan lain - lain atau dengan bantuan software digital imaging, seperti Photoshop,PhotoPaint, atau Gimp.

3.     Lighting
– Lighting adalah proses pembuatan dan pemberian cahaya pada model sehingga diperolehlah kesan visual yang realistis, karena terdapat kesan , kedalaman, ruang dan pembayangan objek. Tanpa adanya Lighting, maka objek 3D menjadi tidak menarik dan juga tidak realistis
– Kita dapat memberikan fitur global illumunation, yang mampu memberikan hasil pencahayaan yang realistis dan natural, seperti dalm kondisi nyata.Fitur ini sangat ideal untuk digunakan, namun membutuhkan kalkulasi waktu render yang cukuplama 4. Environment Effect
– Proses ini adalah proses pembuatan panorama lingkungan pada objek model yang akan semakin menambah kesan realistis.
– Environment mencakup background pemandangan atau langit, lingkungan di sekitar model, seperti jalan, taman, kolam dan lain- lain. Juga mencakup pembuatan efek - efek 3D yang diperlukan, seperti efek api, air, asap, kabut, dan efek - efek lain
– .Proses untuk penambahan efek - efek pendukung lain dapat dilakukan dalam tahap compositing pada post production.

4.     Animation
– Animation adalah proses pembuatan animasi untuk model.
– Animasi dapat berupa gerakan, baik itu gerakan objek atau model atau gerakan kamera untuk menciptakan animasi walkthrough,animasi flythrough dan lain - lain.
 – Kita dapat menentukan arah dimulainya suatu gerakan animasi, disesuaikan dengan storyboard yang telah dibuat pada tahap pre- production.

5.     Rendering
– Proses ini adalah proses pengkalkulasian pada model 3D yangtelah diberi texture , lighting,environment effect, dan animation. Dengan demikian, hasil animasi yang didapatkan tampak sangat nyata dan menarik.

Post Production

1.     Editing Animation and Voice proses pengeditan pada hasil animasi yang telah dibuat dan juga pengeditan pada suara. Dalam proses ini, klip animasi dan suara yang tidak diperlukan akan dibuang.
2.     Compositing and Visual Effect proses compositing pada elemen - elemen animasi serta pembuatan visual effect yang dibutuhkan , misalnya pembuatan judul, atau penambahan efek - efek visual yang memperindah tampilan animasi, seperti pemberian efek cahaya, sinar, ledakan dan lain - lain.
3.     Adding Sound and Audio/folley proses pemberian audio sebagai pendukung visual animasi. proses ini biasanya dilakukan di dalam sebuah ruangan dengan berbagai peralatan yang menghasilkan bunyi - bunyian sesuai dengan adegan yang dibutuhkan dalam animasi.
4.     Preview & Final tahap penyatuan keseluruhan animasi,audio, dan compositing yang telah dibuat.
5.     Burn to Tape proses pemindahan hasil animasi ke media pita untuk diputar di bioskop atau stasiun TV. Media penyimpanan lainyang juga banyak digunakan saat ini adalah media penyimpanan digital, yaitu CD atau DVD.
3 Dimensi
Film animasi secara digital sekarang mulai banyak dilirik oleh berbagai kalangan karena sebagai salah satu solusi untuk menekan biaya produksi.
Animasi di Indonesia
Perkembangan animasi sebenarnya telah meluas di Indonesia, bahkan ada beberapa studio yang telah membuat animasi lisensi luar dikerjakan oleh tenaga ahli lokal atau dengan kalimat lain, Indonesia sudah lama terkenal hanya sebagai tempat produksi industri film animasi Jepang dan Amerika Serikat. Data Ainaki (Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia) mencatat nama-nama studio animasi Indonesia, diantaranya adalah: Frozzty Entertainment, Tunas Pakar Integraha, Castle Production, Mirage, Pustaka Lebah,Jogjakartun, Mrico, Animad Studio, Jelly Fish, Bulakartun, Griya Studio, Bening Studio,Studio Kasatmata, Asiana Wang Animation, Bintang Jenaka Cartoon Film, Red Rocket,Infinity Frameworks dan lain-lain.
Proses Pembuatan Animasi
Stop Motion 3 Dimensi Shaun The Sheep. Dalam dunia animasi dikenal banyak teknik untuk membuatnya. Salah satunya adalah Teknik Animasi Stop Motion menggunakan Clay (Semacam Lempung) atau tanah liat. Teknik ini sebenarnya merupakan teknik animasi klasik atau primitif namun apabila dikerjakan secara profesional dengan ide-ide cerita menarik dan penyajian bagus ternyata dapat menghasilkan karya animasi yang luar biasa.Salah satu contoh karya animasi stop motion menggunakan bahan clay yang spektakuler adalah Shaun The Sheep. Banyak yang m enyukai animasi ini mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Ide cerita yang menarik serta karakter-karakter tokoh yang lucu sepertinya selalu membuat pemirsa merasa terhibur dan tertawa. Di sini saya tidak akan membahas tentang ide cerita dari Film Animasi 3 Dimensi Shaun The Sheep tetapi saya akan mencoba mengajak Anda untuk sedikit mengetahui bagaimana sulit dan rumitnya proses pembuatan animasi Stop Motion 3D Shaun The Sheep tersebut. Berikut photo-photo tahap pembuatan animasi shaun the sheep :
1. Pembuatan Storyboard dan Story Line
Setelah ide cerita ditentukan dan naskah dibuat oleh scriptwriter maka selanjutnya adalah tugas Storyboard Maker untuk membuat Storyboard dan Story Line. Semua storyboard dan story line digambar dan dibuat secara manual menggunakan tangan. Pada tahap ini dibuat keyframe untuk setiap scene dan ditentukan durasi setiap gerakan karakter untuk menentukan berapa jumlah frame yang harus dibuat nantinya Pembuatan keyframe. Untuk In Between juga sudah termasuk di dalamnya.
2. Persiapan Media dan Space
Rumput tiruan dilekatkan pada plat baja dan semua property termasuk rumah-rumahan, pohon-pohonan, meja, rerimbunan tanaman, dll dipasang magnet pada bagian dasarnya sehingga bisa melekat kuat pada rumput supaya posisi tetap terjaga. Latar belakang berupa layar dengan gambar sesuai dengan situasi scene dan didukung tata cahaya sedemikian rupa. Perlengkapan perbengkelan sepertinya sudah menjadi keharusan pada tahap ini
3. Pembuatan Property dan Kostum
Semuanya dibuat manual menggunakan tangan oleh seorang Property Maker untuk menghasilkan bentuk yang seperti seharusnya. Inilah komentar dari
Property Maker Helen Javes : “Semuanya dibuat manual, sehingga sangat rumit. “Bahkan kaki meja dibuatmanual untuk mendapatkan bentuk yang tepat.” Pekerjaan
Property maker bukan tanpa resiko. Jari teriris pisau tajam, dan terbakar akibat panas dari lem adalah resikopekerjaan sehari-hari.
4. Pembuatan Model dan Tokoh
Kalau model cikal-bakal animasi stop motion (primitif) dibuat menggunakan lempung(tanah liat), maka disini Model dibuat menggunakan bahan semacam plasticine atau silikon yang beberapa didalamnya telah dipasang kawat. Sebenarnya untuk bahan bisa digunakanapa saja yang penting mudah dibentuk dan tidak mudah patah saat dilakukan perubahan-perubahan gerakan (stop motion ). Setiap bagian anggota tubuh dapat dilepas dan dipasangdan setiap tokoh bisa memiliki beberapa buah untuk bagian tubuh yang sama (mata,kepala, kaki, telinga, rambut, bibir/mulut, dll) untuk memudahkan perubahan ekspresi karakter.
5. Pengaturan Ekspresi
Kalau model cikal-bakal animasi stop motion (primitif) dibuat menggunakan lempung(tanah liat), maka disini Model dibuat menggunakan bahan semacam plasticine atau silikon yang beberapa didalamnya telah dipasang kawat. Sebenarnya untuk bahan bisa digunakan apa saja yang penting mudah dibentuk dan tidak mudah patah saat dilakukan perubahan-perubahan gerakan (stop motion). Setiap bagian anggota tubuh dapat dilepas dan dipasang dan setiap tokoh bisa memiliki beberapa buah untuk bagian tubuh yang sama (mata,kepala, kaki, telinga, rambut, bibir/mulut, dll) untuk memudahkan perubahan ekspresi karakter.
6. Suku Cadang dan Penyimpanan
Kalau dilihat sekilas seperti kotak penyimpanan mainan anak-anak.
7. Pengaturan Posisi Karakter/Obyek (Stop Motion)
Animasi Stop Motion dibuat dengan menggerakkan karakter/obyek sedikit demi sedikitdan dilakukan pengambilan gambar pada setiap perubahan karakter/obyek tersebut.Sepertinya pada tahap ini harus sangat teliti dan sabar karena berpengaruh langsung pada hasil produksi animasi. Untuk mendapatkan hasil gerakan yang halus, pada proses pembuatan Animasi Stop Motion 3D Shaun The Sheep setiap perubahan gerak karakter/obyek digunakan 25 kali perubahan gerakan/posisi setiap detik atau 25 fps(frame per second). Hal itu sesuai dengan standar mata manusia yang akan menangkap kontinyu gerakan obyek yang bergerak pada kecepatan frame tersebut.


KESIMPULAN
Dalam pembuatan makalah ini dapat disimpulkan bahwa pada proses pembuatan tahapan-tahapan animasi diperlukan pengetahuan khusus tentang aplikasi yang akan dijadikan media pembuatan animasi . Selain itu dalam tahapan-tahapan membuat animasi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu objek animasi itu sendiri,  pembuatan story board dan story line, pembuatan model dan tokoh, dan yang paling terpenting adalah pengaturan ekspresi tokoh. Ekspresi tokoh dianggap penting karena dengan ekspresi dapat membuat karakter terlihat lebih nyata.

SARAN
Pembuatan animasi memnag diperlukan keterampilan dan kesabaran yang tinggi. Dalam pembuatan animasi kita diharuskan menjadi orang yang ahli dalam menguasai pembuatan animasi. Pembuatan animasi tidaklah mudah. Kita tidak hanya membuat animasi saja. Melainkan harus melihat ke depan bagaimana caranya agar animasi yang dibuat dapat sukses dan memuaskan para penonton. Dengan begitu animasi yang kita buat akan terlihat lebih matang dan siap untuk dipublikasikan.

Daftar Pustaka:
·       http://enspirestudio.co.id/proses-pembuatan-animasi/


Dibuat Oleh:
·        Ananto Umar Abdillah (11114000)
·        Bandrio Taruna S (12114027)
·        Diego Rijors Notty (13114064)
·        Fatkhul Barri (14114046)
·        Novrizqi Zuchri D (18114102)
·        Putri Indah Kurnia (18114603)
·        Rijwan Muhammad (17114501)
·        Syifa Auliyaa (1A114622)